Quote

Ucapkan apa yang telah Engkau dengar, Namun Tidak semua yang Engkau dengar harus Engkau ucapkan, Tapi saringlah. Lalu Katakan yang bermakna dan penting saja

Sabtu, 07 Maret 2009

TNI AU Perlu Pesawat Sukhoi Su-35BM


Tulisan berikut masih ada kaitannya dengan tulisan lama saya yang berjudul "Gaung Pembelian Persenjataan RI" yang rupanya arsipnya sudah tidak ada lagi pada KoKi, tapi saya kaget juga saat mendapati tulisan tersebut sudah dijadikan diskusi pada dua buah situs. Belum lama ini dua pesawat Sukhoi Su-30MK2 TNI AU yang baru telah dikunci misil oleh fihak yang sampai sekarang belum diketahui saat sedang melakukan latihan diatas pesisir Sulawesi Selatan. 

Tulisan ini mengulas perkembangan pesawat Sukhoi Flanker dan kemampuannya untuk menghadapi pesawat-pesawat siluman (Stealth).

 


  ***********************

 

Indonesia belum lama ini menerima penyerahan tiga pesawat tempur Sukhoi (baca: Suhoi) Su-30MK2 yang melengkapi dua buah pesawat Su-27SK dan dua buah pesawat Su-30MK yang sebelumnya sudah ada. Konon dibulan Agustus 2009 mendatang Indonesia akan menerima lagi tiga pesawat tempur Su-27SKM hingga jumlah total pesawat tempur dari keluarga Su-27/Su-30 (Sukhoi Flanker) yang dioperasikan Indonesia jumlahnya menjadi 10 pesawat dalam tahun 2009.


 




 






 

Ini suatu jumlah yang demikian minim untuk suatu skadron yang biasanya terdiri antara 12 pesawat hingga 24 pesawat. Misalkan saja skadron pesawat jet ‘pejuang’ Su-30MKM Malaysia terdiri atas 18 pesawat. Ada perbedaan antara pesawat Sukhoi Su-30MKM milik Malaysia dengan Sukhoi Su-30MK milik Indonesia karena dikeluarkan oleh dua pabrik yang berbeda. Semua pesawat Sukhoi Indonesia dikeluarkan oleh KnAAPO (http://www.knaapo.ru/eng/index.wbp), sementara semua pesawat Sukhoi Malaysia dikeluarkan oleh IAPO. KnAAPO menghasilkan pesawat-pesawat tempur Sukhoi Flanker yang dipesan oleh RRC, sementara IAPO menghasilkan pesawat-pesawat tempur Sukhoi Flanker pesanan India.

Ada perbedaan lagi antara pesawat Sukhoi Su-30MKI dan Su-30MKM yang sama-sama diproduksi oleh IAPO. Perbedaan itu terletak pada sistem avioniknya di mana India menggunakan sistem avionik buatan Israel dan Perancis, sementara Malaysia menggunakan sistem avionik buatan Perancis dan Afrika Selatan. Kolonel Penerbang Rusia (pensiun) Grigoriy "Grisha" Medved yang suka menulis di situs Air Power Australia memuji kualitas sistem avionik buatan Israel, sementara Malaysia rupanya demikian alergi untuk menggunakan produk-produk Israel. Ini berlainan halnya dengan TNI yang walaupun dengan diam-diam telah menggunakan persenjataan buatan Israel yang cukup bagus kualitasnya macam senapan serbu Galil. Bravo TNI!

Diduga modifikasi yang dilakukan India telah mendorong terciptanya pesawat tempur Su-35 yang versi awalnya demikian mirip dengan Su-30MKI di mana pesawat tempur Su-35 ini telah dikembangkan lagi menjadi Su-35BM (Bolshaya Modernizatsiya - Deep Modernisation) dengan memanfaatkan perkembangan teknologi mutakhir. Pesawat tempur Su-35BM yang diproduksi tahun 2009 menggunakan radar Tikhomirov NIIP Irbis-E ESA (turunan BARS radar) dengan daya output 20 KW yang mampu menjejak 30 sasaran terpisah dalam keadaan tetap mempertahankan pelacakan dari udara secara terus menerus (track-while-scan mode).

 
 



 

Terlihat adanya suatu kecenderungan sensor-sensor buatan Rusia sekarang dipersiapkan untuk pertempuran diluar batas pandang (BVR – Beyond Visual Range) dengan adanya peningkatan kemampuan jarak jelajah dan ketahanan terhadap gangguan ECM (Electronics Counter Measures). Dalam insiden Bawean pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU sempat mendapat serangan ECM pesawat-pesawat F/A-18 Hornet dari Angkatan Laut AS yang bersikap tidak bersahabat ketika mereka terbang di utara Pulau Bawean dalam insiden 3 Juli 2003.

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0307/07/inspirasi/413831.htm

Sekarang ini pesawat-pesawat Sukhoi Flanker TNI AU akan mampu mengatasi pesawat-pesawat F/A-18 Hornet di mana Grisha menyebutkan bahwa pesawat Sukhoi Flanker itu ibaratnya pestisida bagi Super Hornet. http://www.ausairpower.net/APA-NOTAM-060807-1.html 

Dalam situs tersebut ada tayangan klip video dengan permainan grafis dalam bahasa Rusia mengenai pesawat tempur Su-35BM lengkap dengan detail perlengkapan dan persenjataan yang bisa dibawanya. Klip video tersebut juga dilengkapi suatu animasi pertempuran antara pesawat-pesawat tempur Su-35BM melawan pesawat-pesawat tempur dari Uni Eropa maupun AS yang dilengkapi dengan pesawat peringatan dini di mana juga diperagakan kelebihan ‘3D thrust vectoring’ untuk memenangkan suatu ‘dog fight’. Adanya ‘thrust vectoring nozzles’ pada pesawat memungkinkan sang pilot untuk bisa melakukan manuver pagutan Kobra Pugachev yang legendaris.

 



 

Dengan menggunakan taktik yang tepat seperti yang dipaparkan oleh Grisha, pesawat-pesawat tempur Sukhoi Su-35BM yang dikombinasikan dengan pesawat tempur Sukhoi Su-30MK akan mampu menghadapi serbuan pesawat-pesawat siluman F-35 Lightning II (JSF – Joint Strike Fighter) yang belum lama ini sudah mulai dioperasikan AS. http://www.ausairpower.net/APA-NOTAM-030907-1.html

Seperti dijelaskan Grisha dalam bahasa ‘Russian English’-nya yang khas, suatu formasi pesawat-pesawat Su-35BM dan Su-30MK yang terbang berdampingan bisa saling bertukar informasi melalui jaringan radio digital TKS-2 Intraflight Network hingga posisi pesawat-pesawat F-35 Lightning II yang digelari Grisha sebagai F-35 ‘Pigeon’ (dikarenakan bentuk badan pesawatnya yang agak gemuk dan kecepatannya juga rendah) bisa diteruskan pada pesawat Sukhoi Flanker yang berada pada posisi paling tepat untuk meluncurkan misilnya. Pesawat tempur F-35 Lighning II ini diibaratkan oleh Grisha sebagai petinju bertangan pendek yang memiliki pukulan lemah (having short arms, no punch) dikarenakan keterbatasan pada daerah jelajahnya dan jumlah persenjataan yang bisa dibawanya.




 

Misil ramjet Vympel R-77M1 (kode NATO: AA-12 Adder) dilepaskan saat pesawat F-35 berada dalam jangkauan misil tersebut (175 km). Konon AS masih tertinggal dari Rusia dan gabungan empat negara Eropa (Perancis, Jerman, Inggris dan Italia) karena belum mampu mengoperasikan ramjet untuk misil-misilnya. Sementara misil Vympel R-77M1 merupakan misil tercanggih dunia saat ini dengan kecepatan maximum Mach 4 dan dirancang untuk menghabisi pesawat yang mampu bermanuver hingga mencapai 12g. Misil Vympel R-77M1 jangkauannya melebihi jangkauan misil buatan AS AIM-120D AMRAAM yang hanya 165 km (data ini masih perlu diuji kebenarannya dimasa depan) karena misil AIM-120C AMRAAM yang ada sekarang ini hanya memiliki jangkauan 105 km. Dengan demikian pesawat-pesawat Sukhoi Flanker bisa dengan leluasa melepaskan misil-misil ramjet Vympel R-77M1 tanpa kuatir mendapatkan serangan balasan selama jarak antar pesawat F-35 dan pesawat Sukhoi Flanker melebihi 165 km. Jika pesawat siluman F-35 melepaskan misil AIM-120D AMRAAM, maka pilot-pilot Sukhoi Flanker akan segera melakukan gerakan menghindar.

Pesawat-pesawat siluman F-35 memiliki keterbatasan dalam membawa misil AIM-120D AMRAAM yang jumlahnya maximum bisa dibawa hanya 4 buah saja jika masih ingin keunggulan ‘stealth’ pesawat tersebut dipertahankan. Jika sampai keempat misil ini habis dipergunakan, maka pesawat-pesawat F-35 akan segera menjadi bulan-bulanan pesawat Sukhoi Flanker. Saat pesawat F-35 melarikan diri, maka RCS (Radar Cross Section) akan terlihat sangat besar disamping terlihat kelemahan utamanya berupa temperatur gas buangannya yang 160 C lebih panas dari kebanyakan mesin jet pesawat tempur. Dengan demikian yang perlu dilakukan pilot pesawat Sukhoi Flanker adalah menggunakan keunggulannya dengan memacu pesawat untuk memperkecil jarak dan sesudahnya melepaskan sepasang misil sekaligus. Misil pertama adalah misil anti radar dan misil kedua adalah misil pencari panas (infra-red seeker). Jika ini terjadi maka kemungkinan besar pesawat F-35 akan menjadi “burung dara” panggang dalam sekejap mata. Misil pencari panas Rusia yang baru sudah dilengkapi dengan ‘imaging infra-red’ (IIR) sehingga bisa membedakan antara sasaran sebenarnya dan ‘flare’ yang dilepaskan sasaran untuk mengecoh.

Skenario diatas terdengarnya begitu mudah dan sederhana untuk menghancurkan pesawat tempur F-35 Lightning II yang merupakan pesawat tempur generasi ke-5 buatan AS di mana telah dihabiskan anggaran dana yang demikian besar dari gabungan beberapa negara untuk membuatnya. Tapi dalam kenyataannya tidaklah semudah itu karena biar bagaimanapun pesawat tempur F-35 merupakan pesawat siluman (Stealth). Metoda yang diterapkan Grisha adalah “DIED” (Detect, Identify, Engage, Destroy) di mana untuk mendeteksi pesawat siluman tidaklah mudah dan untuk itu diperlukan bantuan radar-radar khusus di darat.

Grisha mengakui bahwa 10 tahun yang lalu fihaknya merasa kesulitan dalam menghadapi pesawat-pesawat siluman AS yang demikian leluasa menerobos masuk wilayah lawan dan menghancurkan sistem pertahanan udara mereka. Tapi titik terang mulai muncul pada tanggal 17 Maret 1999 saat mana Serbia berhasil merontokan pesawat siluman F-117A Nighthawk melalui misil darat ke udara kuno SA-3 Goa buatan Uni Soviet tahun 1960-an yang sudah dimodifikasi oleh Kolonel Zoltan Dani untuk beroperasi pada frekuensi yang lebih rendah. (Dari namanya sudah bisa diduga bahwa Zoltan Dani bukan berasal dari etnis Serbia, tapi berdarah Hungaria). http://www.ausairpower.net/APA-NOTAM-230408-1.html

Rongsokan pesawat siluman F-117A sebelum dipamerkan di musium AB Serbia di Belgrade dianalisa oleh banyak fihak. Disimpulkan bahwa pesawat siluman AS tidak kebal terhadap radar dengan panjang gelombang > 1 meter. Sejak saat tersebut fihak Rusia mulai mengotak-atik radar-radar kuno mereka yang beroperasi pada gelombang VHF (Very High Frequency) dan menyempurnakannya. Ini mengingatkan saya akan suatu fenomena saat saya dulu menonton melalui TV ukuran 14” dengan antena dipole (rabbit antenna) di Drummoyne (sebuah suburb di Sydney) yang dilalui banyak pesawat komersil. Saya dulu mendapati tayangan TV terganggu sekejap yang disusul tidak berapa lama kemudian dengan raungan suara pesawat lewat. Jadi antena dipole TV yang sangat sederhana saja sudah bisa mendeteksi kedatangan pesawat dari jarak tertentu.

Sekarang Rusia sudah menghasilkan ‘upgrade’ berupa radar digital VHF yang bisa diintegrasikan dengan peralatan SAM (Surface to Air Missile) yang sudah digelar terlebih dahulu disamping juga sudah dihasilkan sistem-sistem radar digital VHF yang baru. Dengan demikian pesawat-pesawat siluman sekarang sudah bisa dideteksi oleh negara-negara yang memiliki sistem pertahanan udara terintegrasi (IADS – Integrated Air Defence System).

Kita akan menjadi saksi dengan apa yang akan terjadi di Iran. Konon Iran sudah memiliki sistem pertahanan udara canggih S-300 buatan Rusia. Sementara ini Israel sudah mengancam untuk menghancurkan reaktor nuklir Iran yang diduga tengah menyiapkan pembuatan bom nuklir. Dalam tayangan TV belum lama ini diberitakan secara ‘off the record’ oleh duta besar Israel untuk Australia bahwa Iran akan mampu membuat bom nuklir dalam 14 bulan mendatang dan Israel akan memastikan bahwa ini tidak akan terjadi.

Tahun 2008 History Channel menayangkan program berjudul “Dogfights of the Future”. Bagi yang belum menonton dan berminat menontonnya secara gratis bisa mencari program tersebut lewat ‘youtube’ dengan nama “Future dogfights” di mana program tersebut dipotong menjadi 9 bagian. Dalam pembuatan animasi ini rupanya History Channel masih menerapkan apa yang populer dikalangan para birokrat Barat berupa model pertempuran udara asimetris di mana diasumsikan bahwa fihak Barat memiliki keunggulan sefihak dengan dimilikinya perangkat AWACS/AEW&C beserta jaringannya yang dianggap tidak akan dimiliki oleh fihak lawan. Mungkin mereka masih terbuai dengan kemenangan Perang Irak (1991 dan 2003) dan pertempuran udara diatas lembah Bekaa (1982). Padahal kenyataannya sekarang tidak seperti itu lagi dengan larisnya Rusia menjual misil udara ke udara jarak jauh yang dirancang khusus untuk menghancurkan AWACS/AEW&C, sistem-sistem pengacak macam SPN-2/4/30 series, Pelena-1, Topol-E dan sistem pendukung ELINT (ELectronic Signals INTelligence) seperti Orion/Vega 85V6 series. 

Dalam tayangan tersebut diceritakan bahwa pesawat-pesawat F-22 Raptor berhadapan dengan sekelompok pesawat MiG-29 yang buta akan keberadaan pesawat-pesawat siluman tersebut. Pada kenyataannya sekumpulan pesawat MiG-29 dimasa mendatang akan selalu dikawal oleh pesawat-pesawat tempur generasi 4++ macam pesawat Su-35BM yang memiliki radar sangat sensitif dan bisa saling bertukar informasi dengan pesawat MiG-29 lewat jaringan TKS-2. Pesawat-pesawat MiG-29 dimasa depan juga kemungkinan sudah di-‘upgrade’ untuk bisa membawa misil Vympel R-77M . Saat pesawat F-22 melepaskan misilnya, maka saat itu juga posisi pesawat siluman tersebut diketahui yang akan segera dibalas dengan pelepasan sepasang misil yang berbeda sifat.

Yang konyol dalam tayangan tersebut adalah suatu keadaan dimana pesawat-pesawat F-22 kehabisan misil dan memerlukan bantuan misil tambahan dari pesawat B-1R yang masih dalam perencanaan untuk dibuat. Sekarang ini jika saja pesawat B-1R dioperasikan maka keberadaannya sudah bisa langsung dideteksi dari jarak jauh dan segera akan menjadi prioritas utama untuk dihancurkan melalui pelepasan misil jarak jauh Novator K-100 dan misil Vympel R-37 (kode Nato: AA-13 Arrow) yang memiliki daerah jelajah antara 300 – 400 km. Jadi dalam keadaan sebenarnya dimasa depan pesawat-pesawat F-22 tidak bisa mengandalkan bantuan pada pesawat-pesawat lain yang bukan pesawat siluman. Pesawat semacam B-1R dan pesawat peringatan dini (AWACS) merupakan sasaran yang mendapat prioritas utama untuk dihancurkan terlebih dahulu.

Ada keganjilan yang mencolok mata dalam tayangan program tersebut, saat mana diceritakan bahwa pesawat F-35 sedang dalam misi penyerbuan yang memerlukan kemampuan ‘stealth’ pesawat, tapi ditayangkan pesawat tersebut sedang membawa demikian banyak misil yang terkait dengan ‘pylons’ pesawat. Mungkin anak kecil juga tahu bahwa kalau kemampuan ‘stealth’ pesawat diperlukan maka semua persenjataan harus tersimpan didalam badan pesawat (fuselage).

Tak dapat dipungkiri bahwa pesawat tempur F-22 Raptor adalah sebuah pesawat tempur generasi ke-5 yang istimewa yang belum bisa ditandingi saat ini dan kita harus menunggu apakah pesawat tandingannya, yaitu Sukhoi PAK-FA yang merupakan pesawat tempur generasi ke-5 Rusia yang direncanakan untuk diluncurkan tahun 2009 ini akan bisa menandinginya. Kombinasi pesawat-pesawat F-22 dengan pesawat-pesawat F-35 akan memberikan kemampuan ‘strike’ yang tinggi. Tapi sekarang keadaannya akan menjadi lain kalau sampai berani memasuki wilayah udara lawan yang sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan udara terintegrasi yang merupakan adaptasi atas apa yang telah terjadi di Serbia selama konflik Kosovo pada tahun 1999. Pada kenyataannya hanya ada beberapa negara di dunia yang memiliki sistem tersebut diluar Rusia dan diantaranya adalah RRC, Iran dan Venezuela.

Ada yang mengganggu telinga saya saat menonton tayangan “Dogfights of the Future” tersebut, yaitu tiap kali diucapkannya kata Rafale (baca: Rafal). Rafale adalah nama pesawat tempur kebanggaan Perancis yang entah bagaimana demikian sering muncul dalam tayangan tersebut. Saya untuk pertama kalinya mendengar kata Rafale ditahun 1986 saat berdiskusi dengan seorang ‘engineer’ muda Perancis. Mungkin ketidak nyamanan ditelinga ini mirip dengan apa yang dirasakan oleh seorang kolega kelahiran Belanda yang jadi mendelik sambil geleng-geleng kepala seraya mengomel saat nama kota Amsterdam dilafalkan sebagai “emsterdem” oleh seorang vendor asal AS.

TNI AU telah demikian jeli dan pintar untuk membeli pesawat-pesawat Sukhoi Flanker dari varian yang berbeda walaupun jumlahnya amat terbatas. Pesawat Sukhoi Su-30MK2 yang baru diserahkan merupakan varian khusus yang bisa membawa misil-misil anti kapal laut. Sementara pesawat-pesawat Sukhoi Su-27SKM yang nantinya akan diterima TNI-AU merupakan suatu varian dengan ‘upgrade’ pada sistem avioniknya yang merupakan pesawat tempur generasi 4+ untuk keperluan supremasi udara disamping juga mampu untuk melancarkan serangan ke darat. Pesawat-pesawat Sukhoi Flanker Indonesia ini semuanya merupakan bagian Skadron Udara 11 Lanud Hasanuddin yang secara geografis cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari dua buah pulau yang diambil oleh Malaysia.

TNI AU tampaknya perlu memiliki pesawat-pesawat tempur Sukhoi Su-35BM yang merupakan pesawat tempur generasi 4++ hingga mampu untuk melacak pesawat-pesawat siluman dan konon ini merupakan varian terakhir yang dikembangkan Rusia untuk Sukhoi Flanker. Pesawat tempur ini juga merupakan pesawat tempur peran ganda yang bisa melakukan semua peran dari berbagai varian Sukhoi Flanker sebelumnya.

Terbetik berita belum lama ini bahwa dua pesawat Su-30MK2 TNI AU yang baru telah dikunci misil dari fihak yang tidak diketahui asalnya saat sedang berlatih diatas pesisir Sulawesi Selatan. http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/20/13301076/dua.sukhoi.lanud.hasanuddin.dikunci.missile.

Dari beberapa kemungkinan saya cenderung untuk menduga bahwa ini dilakukan oleh pesawat siluman karena radar pesawat Su-30MK2 tidak mampu mendeteksi keberadaan pesawat tempur asing. Saya tidak tahu apakah Kohanudnas memiliki radar-radar yang beroperasi pada gelombang VHF. Misalkan saja dugaan tersebut benar maka saya lebih cenderung bahwa itu dilakukan oleh pesawat F-22 yang demikian superior karena pesawat siluman F-35 memiliki jarak jelajah yang terbatas walaupun ada yang berbasis diatas kapal induk.

Hal ini membuktikan bahwa pesawat-pesawat tempur generasi 4 akan kesulitan menghadapi pesawat-pesawat tempur generasi ke-5 dan ini mendukung model pertempuran udara asimetris seperti yang ditayangkan dalam tayangan “Dogfights of the Future” dimana pesawat-pesawat F-22 dengan begitu leluasa bisa menghabisi pesawat-pesawat lawan dengan menggunakan misil AIM-120D AMRAAM. Tapi apakah kejadian tersebut merupakan pembuktian fihak Lockheed Martin, pabrik pembuat pesawat F-35 Lightning II, bahwa Australia tidak perlu ragu untuk memiliki pesawat siluman tersebut? Ini dikarenakan fihak Air Power Australia bersekukuh bahwa pesawat-pesawat F-35 tidak cukup bagus untuk Australia dan yang diperlukan adalah pesawat-pesawat F-22 yang sementara ini tidak bisa diexpor.

Dalam situs Air Power Australia berikut Grisha menuliskan suatu skenario untuk menghancurkan ADF (Australian Defence Force) dengan sebagiannya menerapkan taktik yang telah disiapkan oleh Uni Soviet untuk menghadapi AS dalam Perang Dingin sebelumnya. Ternyata hanya dibutuhkan beberapa skadron pesawat Sukhoi Flanker generasi baru yang membawa persenjataan lengkap untuk bisa menghancurkan ADF yang kekuatannya termasuk kelas menengah di dunia. http://www.ausairpower.net/APA-NOTAM-040707-1.html Itu sebabnya Australia akan selalu mengandalkan diri pada payung pertahanan AS.

 



 


Diluar Rusia hanya RRC dan India yang memiliki konsentrasi ratusan pesawat Sukhoi Flanker disamping memiliki lisensi untuk membuat pesawat Sukhoi Flanker beserta persenjataannya. Kerja sama antara India dan Rusia menghasilkan misil jelajah BrahMos (diambil dari nama sungai Brahmaputra dan Moskva) yang merupakan misil jelajah tercepat dunia dengan kecepatan Mach 2,8 atau sekitar 3,5 kecepatan misil jejajah Harpoon buatan AS.

Saya yakin dunia dimasa mendatang akan lebih sejuk dengan telah terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS yang terbukti lebih mengedepankan adanya dialog. Masih ditunggu apa kelanjutan program yang merupakan warisan Bush berupa penempatan perangkat pertahanan anti peluru kendali NATO berupa roket-roket penangkal di Polandia yang terkait dengan perangkat radar pertahanan udara di Ceko. Sistem ini walaupun dinyatakan oleh Bush tidak ditujukan pada Rusia tapi keberadaannya jelas-jelas mengancam peluru-peluru kendali antar benua Rusia. Hal ini akan diimbangi fihak Rusia dengan menggelar sistem peluru kendali taktis Iskander-M (kode NATO: SS-26 Stone) di wilayah Kaliningrad yang langsung diarahkan pada pangkalan roket di Polandia. Seperti bisa diduga nama Iskander tersebut diambil dari nama salah seorang penguasa dunia yaitu kaisar Iskandar Agung (Alexander the Great). Versi awal sistem peluncur roket jelajah ini berupa Iskander SS-21 Scarab/Tochka telah dipergunakan Rusia untuk menghujani wilayah Georgia pada konflik dibulan Agustus 2008 dengan menimbulkan kerusakan besar.

‘Si vis pacem, para bellum.’ Jika ingin damai, bersiaplah untuk perang.

Sumber: Air Power Australia dan berbagai situs di Internet

1 komentar:

Nhadri nash mengatakan...

Bagi saya tidak perlu lawan f22 raptor. jumpa rafale atau typhoon aja su35bm belum tentu memang..